BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

BAMA ANDROID DAN SOFTWARE

Tak semua yang kau inginkan terkabulkan, tapi yakinlah semua yang kau butuhkan pasti Allah kabulkan

Selasa, 19 Januari 2010

Siklus menstruasi


Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.

Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut :

Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.

Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

sistem endokrin

Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.

1. Kelenjar Endokrin dan Hormon yang Dihasilkan

Dalam tubuh manusia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipofisis, tiroid, paratiroid, kelenjar adrenalin (anak ginjal), pankreas, ovarium, dan testis.

a. Hipofisis
Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master gland. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian anterior, bagian tengah, dan bagian posterior

1. Hipofisis bagian anterior
Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis bagian anterior dan fungsinya dapat dilihat pada Tabel 11.4.

2. Hipofisis bagian tengah
Menghasilkan hormon perangsang melanosit atau Melanosit Stimulating Hormon MSH). Apabila hormon ini banyak dihasilkan maka menyebabkan kulit menjadi hitam.


Gbr. Kelenjar-kelenjar endokrin dalam tubuh manusia

Tabel 11.4 Hormon dan Fungsi Hormon yang Dihasilkan Hipofisis Bagian Posterior

3. Hipofisis bagian posterior

Hormon yang dihasilkan dan fungsinya dapat dilihat pada Tabel 11.5.

Tabel 11.5

b. Tiroid (Kelenjar Gondok)

Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang menggenting. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh.

Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan fisik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan iodium yang masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam iodium di dalam makanan.

Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmik tiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut; kecepatan metabolisme meningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam. Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus) dan kelenjar tiroid membesar.

c. Paratiroid l Kelenjar Anak Gondok

Paratiroid menempel pada kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan parathormon yang berfungsi mengatur kandungan fosfor dan kalsium dalam darah. Kekurangan hormon ini menyebabkan tetani dengan gejala: kadar kapur dalam darah menurun, kejang di tangan dan kaki, jari-jari tangan membengkok ke arah pangkal, gelisah, sukar tidur, dan kesemutan.

Tumor paratiroid menyebabkan kadar parathormon terlalu banyak di dalam darah. Hal ini mengakibatkan terambilnya fosfor dan kalsium dalam tulang, sehingga urin banyak mengandung kapur dan fosfor. Pada orang yang terserang penyakit ini tulang mudah sekali patah. Penyakit ini disebut von Recklinghousen.
d. Kelenjar Adrenal l Suprarenal l Anak Ginjal

Kelenjar ini berbentuk bola, menempel pada bagian atas ginjal. Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal dan dibagi atas dua bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula).

Hormon dan pengaruh hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal dapat dilihat pada Tabel.

Kerusakan pada bagian korteks mengakibatkan penyakit Addison dengan gejala sebagai berikut: timbul kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntahmuntah, terasa sakit di dalam tubuh. Dalam keadaan ketakutan atau dalam keadaan bahaya, produksi adrenalin meningkat sehingga denyut jantung meningkat dan memompa darah lebih banyak. Gejala lainnya adalah melebarnya saluran bronkiolus, melebarnya pupil mata, kelopak mata terbuka lebar, dan diikuti dengan rambut berdiri.

e. Pankreas

Ada beberapa kelompok sel pada pankreas yang dikenal sebagai pulau Langerhans berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Hormon ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan dibawa ke sel hati dan selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes. Selain menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan hormon glukagon yang bekerja antagonis dengan hormon insulin.

Hormon dan Fungsi Hormon yang Dihasilkan Kelenjar Adrenal

f. Ovarium

Ovarium merupakan organ reproduksi wanita. Selain menghasilkan sel telur, ovarium juga menghasilkan hormon. Ada dua macam hormon yang dihasilkan ovarium yaitu sebagai berikut.

1. Estrogen

Hormon ini dihasilkan oleh Folikel Graaf. Pembentukan estrogen dirangsang oleh FSH. Fungsi estrogen ialah menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Tanda-tanda kelamin sekunder adalah ciri-ciri yang dapat membedakan wanita dengan Aria tanpa melihat kelaminnya. Contohnya, perkembangan pinggul dan payudara pada wanita dan kulit menjadi bertambah halus.

2. Progesteron

Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum. Pembentukannya dirangsang oleh LH dan berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi.

Plasenta membentuk estrogen dan progesteron selama kehamilan guna mencegah pembentukan FSH dan LH. Dengan demikian, kedua hormon ini dapat mempertahankan kehamilan.

g. Testis

Seperti halnya ovarium, testis adalah organ reproduksi khusus pada pria. Selain menghasilkan sperma, testis berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon androgen, yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder. Misalnya suaranya membesar, mempunyai kumis, dan jakun.





< Sebelum Sesudah >

Bio

1

2

3
Fis

1

2

3
Kim

1

2

3
Mat

1

2

3
tryout gratis!!


tips umptn

katanya sih sakit gigi lebih sakit dari pada nggak diterima di perguruan tinggi negeri

selanjutnya

Download Macromedia Shockwave

supaya bisa liat Modul Multimedia

5 alat indra


5 Lima Alat Indera Manusia : Mata, Hidung, Telinga, Lidah & Kulit (Panca Indera)
Wed, 20/08/2008 - 1:13am — godam64

Manusia membutuhkan informasi berupa rangsangan dari lingkungan luar sekitar untuk dapat menjalani hidupnya dengan baik. Agar rangsangan yang berasal dari luar tubuh dapat ditangkap dibutuhkan alat-alat tubuh tertentu yang bernama indera. Kelima alat indera itu adalah mata, hidung, telinga / kuping, kulit dan lidah.

Setiap orang normalnya memiliki lima / panca indera yang berfungsi dengan baik untuk menangkap rangsangan sehingga dapat memberikan respon sesuai dengan keinginan atau sesuai dengan insting kita. Orang yang cacat indra masih bisa hidup namun tidak akan bisa menikmati hidup layaknya manusia normal.

Indera Manusia ada lima sehingga disebut panca indera disertai arti definisi / pengertian, yaitu :

1. Indera Penglihatan / Penglihat = Mata
Mata adalah indera yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga mampu dengan mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat. Jumlah mata manusia ada dua buah yang bekerja saling menunjang satu sama lain. Orang yang tidak memiliki mata disebut buta sehingga butuh bantuan tongkat, anjing pemandu, dll untuk kemudahan dalam mengenali lingkungan sekitar dan juga untuk bergerak.

2. Indera Penciuman / Pencium = Hidung
Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. Kita mampu dengan mudah mengenali makanan yang sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan mencium aroma makanan tersebut. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau.

3. Indera Pengecap = Lidah
Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat menikmati makanan dan minuman karena adanya indra pengecap ini. Bagian lidah yang depan berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakang untuk rasa pait.

4. Indera Pendengaran / Pendengar = Telinga / Kuping
Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui / mengidentifikasi apa yang terjadi di sekitar kita tanpa harus melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Orang yang tidak bisa mendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.

5. Indera Peraba = Kulit
Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu, sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya. Pada kulit terdapat reseptor yang merupakan percabangan dendrit dari neuron sensorik yang banyak terdapat di sekitar ujung jari, ujung lidah, dahi, dll.

Apabila dibagi ke dalam kelompok alat indera, maka dapat kita bagi ke dalam tiga grup kelompok, yakni :

1. Kemoreseptor
Kemoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan zat kimia yaitu indra pembau (idung) dan indra pengecap (lidah).

2. Mekanoreseptor
Mekanoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan gaya berat, tegangan suara dan tekanan yakni indra peraba (kulit) dan indra pendengaran (kuping).

3. Photoreseptor / Fotoreseptor
Photoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan cahaya seperti indra penglihatan atau mata.

Alat indra kita merupakan aset terpenting tubuh kita oleh sebab itu jagalah kesehatan alat indera kita agar tetap sehat dan berfungsi dengan baik.

-----

Tambahan :

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai alat indera anda dapat mencoba mencari artikel terkait di situs ini dengan mempergunakan fasilitas pencari (search) yang ada di situs ini. Terima kasih semoga sukses selalu.

Minggu, 27 Desember 2009

struktur kloroplas

ULTRA STRUKTUR KLOROPLAS
 Kloroplas merupakan salah satu organel yang terdapat pada sel tumbuhan, kloroplas adalah plastida yang mengandung klorofil.
 Pada sel tumbuhan tingkat tinggi umumnya berisi 50 – 200 buah kloroplas, ukurannya sekitar 4-6 mikro meter.
 Bagian-bagian kloroplas :
 Membran luar
 Ruang antar membran
 Membran dalam
 Sistem membran internal yang terdiri dari: Grana, Stroma, Tilakoid.
 Membran luar, membran luar permukaannya rata dan berfungsi mengatur keluar masuknya zat. Antara membran luar dan membran dalam dipisahkan oleh ruang antar membran yang tebalnya 10 nm. Membran ini permeabel terhadap senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah seperti : nukleotida, fosfat inorganik, derivat yang mengandung fosfat, asam karboksilat, dan sukrosa. Jadi ruang antar membran dapat dengan bebas menggunakan segala macam molekul nutrien dari sitosol.
 Ruang antar membran, adalah ruangan yang memisahkan antara membran luar dengan membran dalam, tebalnya kira-kira 10 nm.
 Membran dalam, membran dalam kloroplas merupakan barier/ penghalang antara sitosol dan stroma kloroplas. Membran dalam permeabel terhadap sukrosa, sorbitol, dan macam-macam anion. Meskipun membran dalam impermeabel terhadap sejumlah persenyawaan, namun membran dalam permeabel terhadap karbon dioksida dan asam monokarboksilat tertentu seperti asam asetat,asam gliserat, dan asam glikolat, serta kurang permeabel terhadap asam amino.
 Sistem membran internal
 Tilakoid
adalah membran dalam kloroplas yang melipat ke arah dalam dan berbentuk seperti lembaran-lembaran. Pada permukaan dalam tilakoid terdapat kumpulan partikel yang tersusun berderet yang disebut kuantosom. Dikuantosom inilah terdapat zat klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Klorofil ini berfungsi menangkap energi cahaya matahari, energi yang ditangkap itu digunakan untuk memecah molekul air, yang kemudian direaksikan dengan karbondioksida menjadi gula dan oksigen.
 Stroma
adalah membran dalam yang membungkus cairan kloroplas, stroma merupakan tempat untuk berlangsungnya reaksi gelap fotosintesis.
 Grana
adalah kumpulan tilakoid yang bertumpuk-tumpuk membentuk badan seperti tumpukan uang logam.
Peranan kloroplas dalam proses FS I dan FS II
1. Fotosistem I (FS I)
fotosistem I berisi klorofil b, klorofil a 670, klorofil a 695, dan sejumlah kecil klorofil a khusus yang mengabsorpsi cahaya dengan panjang gelombang 700 nm, disebut P.700. P700 merupakan pusat reaksi.jika cahaya mengenai PS I klorofil akan mengalami eksitasi, dan eksitasi ini menjalar diantara klorofil ke P.700. pengaktifan P.700menyebabkan terjadinya transfer sebuah elektron ke akseptor elektron X. dari akseptor X melalui ferridoksin 540 dipakai untuk mereduksi NADP+ dan H+, menjadi NADPH (non siklik). Jika terjadi eksistasi NADPH elektron akan kembali melalui Fd.590 dan sitokrom b6 ke P.700 (siklik). Pada waktu P.700 melepaskan elektronnya (foto oksidasi) akan segera kembali ke bentuk semula, dengan menerima elektron dari plastosianin (PC). PC dengan sitokrom f berdekatan dengan P.700 berfungsi untuk transfor elektron yang berasal dari PS II.

Fotosistem II
fotosistem II berisi klorofil b, klorofil a 670, kloroil a 680. sebagai pusat reaksinya adalah klorofil a yang mengabsorpsi cahaya dengan panjang gelombang 680 nm, disebut P.680. pada PS II ini terdapat akseptor elektron yang diberi nama Q. akseptor ini dapat menghilangkan fluoresensi klorofil a pada PS II.
 Pembentukkan Amilum dalam proses reaksi gelap fotosintesis.
Reaksi gelap merupakan reaksi lanjutan dari reaksi terang dalam fotosintesis. Reaksi ini tidak membutuhkan cahaya. Reaksi gelap terjadi pada bagian kloroplas yang disebut stroma. Bahan reaksi gelap adalah ATP dan NADPH, yang dihasilkan dari reaksi terang, dan CO2, yang berasal dari udara bebas. Dari reaksi gelap ini, dihasilkan glukosa (C6H12O6), yang sangat diperlukan bagi reaksi katabolisme. Salah satu substansi penting dalam proses ini ialah senyawa gula beratom karbon lima yang terfosforilasi yaitu ribulosa fosfat. Jika diberikan gugus fosfat kedua dari ATP maka dihasilkan ribulosa difosfat (RDP). Ribulosa difosfat ini yang nantinya akan mengikat CO2 dalam reaksi gelap. Secara umum, reaksi gelap dapat dibagi menjadi tiga tahapan (fase), yaitu fiksasi, reduksi, dan regenerasi.
 Pada fase fiksasi, 6 molekul ribulosa difosfat mengikat 6 molekul CO2 dari udara dan membentuk 6 molekul beratom C6 yang tidak stabil yang kemudian pecah menjadi 12 molekul beratom C3 yang dikenal dengan 3-asam fosfogliserat (APG/PGA). Selanjutnya, 3-asam fosfogliserat ini mendapat tambahan 12 gugus fosfat, dan membentuk 1,3-bifosfogliserat. Kemudian, 1,3-bifosfogliserat masuk ke dalam fase reduksi
 Fase reduksi,dimana senyawa ini direduksi oleh H+ dari NADPH, yang kemudian berubah menjadi NADP+, dan terbentuklah 12 molekul fosfogliseraldehid (PGAL) yang beratom 3C. Selanjutnya, 2 molekul fosfogliseraldehid melepaskan diri dan menyatukan diri menjadi 1 molekul glukosa yang beratom 6C (C6H12O6). 10 molekul fosfogliseraldehid yang tersisa kemudian masuk ke dalam fase regenerasi.
 fase regenerasi, yaitu pembentukan kembali ribulosa difosfat. Pada fase ini, 10 molekul fosfogliseraldehid berubah menjadi 6 molekul ribulosa fosfat. Jika mendapat tambahan gugus fosfat, maka ribulosa fosfat akan berubah menjadi ribulosa difosfat (RDP), yang kemudian kembali mengikat CO2 dan menjalani siklus reaksi gelap
 Reaksi gelap ini menghasilkan APG (asam fosfogliserat), ALPG (fosfogliseraldehid), RDP (ribulosa difosfat), dan glukosa (C6H12O6).

faktor pembatas ekosistem sungai

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG


Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini , sehingga hubungan nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik berdasarkan ruang maupun waktu.
Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan sebagai faktor pembatas bagi organisme , yaitu Hukum Minimum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford. Hukum Minimum Liebig menyatakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman akan ditentukan oleh unsur hara esensial yang berada dalam jumlah minimum kritis, jadi pertumbuhan tanaman tidak ditentukan oleh unsur hara esensial yang jumlahnya paling sedikit. Dengan demikian unsur hara ini dikatakan sebagai faktor pembatas karena dapat membatasi pertumbuhan tanaman.
Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu janis organisme mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya, diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya. Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat bertahan hidup dan disebut daerah yang tidak toleran.
Meskipun Hukum Minimum Liebig dan Hukum Toleran shelford pada dasarnya benar namun hukum ini masih terlalu kaku, sehingga kedua hukum tersebut digabungkan menjadi konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataanbahwa kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada kondisi-kondisi yang tidak sederhana. Organisme di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam pertumbuhan dan penyebaran jenis.
Semua faktor lingkungan dapat bertindak sebagai faktor pembatas bagi suatu organisme, baik secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Beberapa faktor lingkungan yang sering menjadi faktor pembatas bagi organisme adalah :
1. Cahaya Matahari
Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu.
2. Suhu Udara
Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisme. Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air.
3. Air
Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut.
4. Ketinggian tempat
Ketinggian suatu tempat diukur mulai dari permukaan air laut. Semakin tinggi suatu tempat, keragaman gas-gas udara semakin rendah sehingga suhu suhu udara semakin rendah.
5. Kuat arus
Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya.


B. TUJUAN

1) Mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berperan sebagai faktor pembatas pada ekosistem sungai.
2) Untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap komponen- komponen biotik ekosistem sungai.


















C. PAPARAN DATA



No Faktor Lingkungan Komponen Keterangan
Arus deras Arus tenang




1.



Faktor fisik perairan Kedalaman perairan 0,14 m 0,1 m
Lebar badan sungai 2,8 m 5,5 m
Substrat dasar batu pasir
Kecepatan arus 0,21 m/s 0,27 m/s
kecerahan cerah cerah
pH air 8,5 7,8
Temperatur air 24° C 22,5° C
Intensitas cahaya 1 2,4
suhu 37,1 ° C 37 ° C
Kelembeban udara 65 % 60 %









2.








Faktor biotik Fitoplankton
• Lumut
• alga
•
zooplankton
• Serangga air
•
Tumbuhan hijau
• Paku-pakuan
• talas
Konsumen I
• ikan
• serangga air
Konsumen II
• katak
Konsumen III
• ular
Dekomposer
• Bakteri
• Cacing
•






















D. PEMBAHASAN


Faktor pembatas dalam ekosistem perairan sungai
a. Cahaya matahari
Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu.
b. Air.
Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut.
c. Suhu.
Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama mengurangi perubahan suatu sampai tingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada di udara. Sifat yang terpenting adalah : panas jenis, panas fusi, dan panas evaporasi.

C. Kejernihan
Penetrasi cahaya sering kali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap, sering kali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktifitas.



D. Arus
Air cukup “padat”, maka arah arus amat penting sebagai faktor pembatasan, terutama pada aliran air. Disamping itu, arus sering kali amat menentukan distribusi gas yang fital, garam dan organisme yang kecil. Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya.
F. Zona air deras
Daerah yang airnya dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh berbagai bentos yang telah beradapatasi khusus misalnya derter.
G. Zona air tenang
Bagian air yang dalam dimana kecepatan arus suda berkurang, maka lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar, sehingga dasarnya lunak tidak sesuai dengan bentos tetapi sesuai untuk penggali nekton dan plankton.















E. PENUTUP


KESIMPULAN
• Setiap organisme keberadaanya, pertumbuhan, dan distribusinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan
• Faktor pembatas dalam ekosistem perairan sungai antara lain : cahaya matahari, air, suhu, kejernihan dan kuat arus.























DAFTAR PUSTAKA


• Odum, eugene,P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi, edisi ketiga, Yogyakarta ; Universitas. Gajah Mada Press
• Odum, howard, T. 1992. Ekologi sistem, Yogyakarta ; Universitas Gajah Mada Press
• Polunin, nicholas. 1997. Teori ekosistem dan penerapannya. Yogyakarta ; Universitas Gajah Mada Press
• Susatyo, ari. 2003. Petunjuk praktikum ekologi. Semarang ; IKIP PGRI Semarang





















FAKTOR PEMBATAS PADA EKOSISTEM SUNGAI
Disusun untuk memenuhi tugas praktikum Ekologi






Disusun Oleh :

RUSTAMAJI ( 06320189 )





JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2008

ekologi hutan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI I
FAKTOR PEMBATAS DALAM EKOSISTEM HUTAN
Laporan ini disusun guna memenuhi tugas Kelompok Mata Kuliah Praktikum Ekologi I

Dosen : Ary Susatyo Nugroho, M.Si.



Disusun Oleh Kelompok IV
Kelas V A
1. Dwi Putri Endriani ( 06320029 )
2. Eti Sukma Kristanti ( 06320039 )
3. Heri Priadi ( 06320045 )
4. Nur Wakidah ( 06320085 )
5. Puji Wahyurini ( 06320089 )
6. Puji Susilowati ( )
7. Ulfatul Khasanah ( 06320145 )



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2008
FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM DALAM HUTAN

Hari dan Tanggal Pelaksanaan Praktikum : Sabtu, 08 November 2008

A. Diskripsi Umum
Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan memiliki dimensi ruang dan waktu yang berarti kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini, sehungga hubungan yang nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu baik berdasarkan ruang maupun waktu.
Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan sebagai faktor pembatas bagi organisme, yaitu Hukum minimum Liebig dan Hukum toleransi Shelford. Hukum minimum liebig menyatakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman akan ditentukan oleh unsur hara esensial yang berada dalam jumlah minimum kritis. Jadi pertumbuhan tanaman tidak ditentukan oleh unsur hara yang melimpah tetapi ditentukan oleh unsur hara yang jumlahnya paling sedikit. Dengan demikian unsur hara ini dikatakan sebagai faktor pembatas karena dapat membatasi pertumbuhan tanaman.
Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan, suatu jenis organisme memiliki suatu kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya, diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya. Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat bertahan dan disebut dengan daerah yang tidak toleran.
Meskipun hukum minimum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford pada dasarnya benar namun humkum ini masih terlalu kaku, sehingga kedua hukum tersebut digabungkan menjadi konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada kondisi-kondisi yang tidak sederhana. Organisme dialam di kontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam pertumbuhan dan penyebaran jenis.
Semua faktor lingkungan dapat bertindak sebagai faktor pembatas bagi suatu organisme, baik secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Beberapa faktor lingkungan yang sering menjadi faktor pembatas bagi organisme adalah;
1. Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahari yang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun berlebihan dapat menjadi faktor pembatas bagi ekosistem.
2. Suhu Udara
Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisme, Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air.Kisaran suhu yang sangat kecil antara minus 200oC sampai 100oC dibandingkan kisaran suhu ribuan derajad C yang dikenal di alam semesta.
3. Air
Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air di bumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada suatu ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah dan keteragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut.
4. Ketinggian Tempat
Ketinggian suatu tempat diukur mulai dari permukaan air laut. Semakin tinggi suatu tempat, kerenggangan gas-gas udara semakin rendah sehingga suhu udara semakin rendah.
5. Kuat Arus
Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya.




B.Tujuan Praktikum;
1. Mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berperan sebagai faktor pembatas pada ekosistem hutan.
2. Mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berperan sebagai faktor pembatas pada ekosistem padang rumput.
C. Paparan Data
No Faktor Lingkungan Komponen Tempat terang Tempat teduh
1. Faktor Klimatik Intensitas cahaya
Temperatur Udara
Kelembapan Udara
Arah Angin
Awan
Debu
Asap 897
31oC
70 %
-
Berawan (+ + )
-
- 360
27oC
82 %
-
Berawan ( + + + )
-
-
2. Faktor Edafik Tekstur tanah
Warna tanah
Porositas
pH
Kadar air tanah
Keberadaan Batu Lempung berpasir
Kecoklatan

6,2
5,9 %
ada Lempung
Merah

5,9
6,2 %
ada
3. Faktor Topografi Ketinggian Tempat
Kemiringan Lahan
Arah kemiringan Lahan
Kondisi permukaan lahan
50o

datar
42o

bergelombang
4. Faktor Biotik Tumbuhan Hijau
 Sengon
 Nangka
 Branchiaria mutica
 Cynodon dactylon
 Panycum brevifolium
 Cyperus kyllinga
 Ageratum conyzoides
 Hyptis capitarta
 Hyptes capitata
 Phylantus amarus
 Lumut
Jamur
 Jamur kuping
 Jamur amanita
Konsumen I
 Semut hitam
 Belalang ranting
 Belalang hijau
Konsumen II
 Burung
 Katak
Konsumen III
 Ular
Dekomposer
 Jamur
 Cacing
2 pohon
3 pohon
banyak
banyak
sedikit
banyak
banyak
sedikit
sedikit
banyak
sedikit

tidak ada
ada

ada
tidak ada
ada

ada
tidak ada

tidak ada

ada
ada
1 pohon
4 pohon
banyak
sedikit
sedikit
banyak
sedikit
banyak
banyak
sedikit
banyak

ada
ada

ada
ada
tidak ada

ada
ada

ada

ada
ada

D. Pembahasan
Intesitas cahaya ekosistem hutan sangat ditentukan oleh radiasi matahari yang sampai pada ekosistem tersebut sehingga kualitas cahaya merupakan faktor yang vital tetapi juga membatasi keduanya pada tingkat maximum dan minimum. Seperti hal nya pada tanaman sengon yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi dari golongan lumut tidak memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. Temperatur udara dan kelembaban udara sangat berperan dalam proses-proses metabolisme tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya dalam suplai air seperti lumut dan jamur memerlukan daerah yang lembab untuk mempertahankan hidupnya. Beberapa mahluk terutama yang sedang berada didalam tingkat beristirahat dapat ada dalam suhu sangat rendah dalam waktu yang singkat, sedang beberapa mikroorganisme terutama bakteria dan algadapat hidup dan bereproduksi di suhu yang sangat tinggi.
Tekstur tanah, warna, serta pH juga dapat dijadikan sebagai faktor pembatas ekosistem hutan. Tekstur tanah menunjukkan sifat halus atau kasarnya butirann-butiran tanah didalamnya terkandung antara pasir ( sand ), debu ( silt ), liat ( clay ). Dalam ekosistem ini tekstur tanahnya lempung berpasir ( Sandy loam ). Secara alami tanah tidak memiliki struktur yang sempurna namun demikian orang menyederhanakannya dalam ide yang sempurna yang dinamakan dengan tanah Ideal. Tanah hutan yang berwarna coklat sampai hitam mudah didapati. Hal ini disebabkan oleh warna tanah yang dipengaruhi oleh kelembapan dan bahan organik yang ada didalamnya.
pH tanah di ekosistem ini berkisar antara 4,5 sampai 6,7. Jenis tanaman yang dapat bertahan hidup dan mengalami proses pertumbuhan berkisar pada pH tanah minimum 4,5 sampai 6,7, pH tanah yang netral adalah 7.sedang batas maximum tanaman dapat hidup pada pH 8,9 karena tingkat kebasaan tinggi dan tidak perlu penggampingan atau kebutuhan kapur.
Air , Hujan ditentukan sebagian besar ditentukan oleh pola geografi dan pola gerakan-gerakan udara yang besar atau sistem-sistem cuaca. Penyebaran hujan sepanjang tahun merupakan faktor pembatas yang sangat penting untuk organisme-organisme.Pada kasus ini tumbuhan dan hewan harus mampu hidup atau mengatasi periode kekeringan yang panjang yang pada umumnya curah hujan cenderung tersebar tidak merata dalam musim didaerah tropik dan subtropik sering kali dengan masa-masa kering dan basah yang jelas sehingga apabila tumbuhan atau hewan tidak mampu beradaptasi akan gugur atau mati.
Keadaan topografi sangat mempengaruhi profil tanah didalam daerah iklim tertentu. Lahan berbukit-bukit atau terutama disalahgunakan oleh manusia cenderung akan merusak lapisan tanah dan tanah cenderung memiliki lapisan A dan B yang tipis oleh erosi. Dilahan yang rata air dapat mencuci bahan-bahan dengan sangat cepat kedalam lapisan yang lebih dalam kadang-kadang membentuk endapan yang tidak dapat tembus oleh akar,binatang, air sehingga tanaman kerdil.
Faktor biotik disini terdapat populsai yang membentuk komunitas biotik dan membentuk ekosistem.



 Rantai makanan di tempat terang pada ekosistem hutan
Rumput → Belalang
↑ ↓
Pengurai ← Burung

 Rantai makanan di tempat teduh pada ekosistem hutan
Rumput → belalang
↑ ↓
Pengurai ← Ular ← katak


E. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pembatas ekosistem hutan adalah;
 Faktor klimatik meliputi intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara,.
 Faktor edafik meliputi tekstur tanah, warna tanah, porositas, pH, Kadar air tanah.
 Faktor topografi meliputi ketinggian tempat,kemiringan lahan, arah kemiringan lahan.
 Mahluk dapat memiliki suatu kisaran toleransi lebar untuk suatu fktor dan suatu kisaran sempit untuk faktor lainnya.
 Mahluk dengan kisaran toleransi lebar untuk semua faktor memiliki agihan paling luas.











DAFTAR PUSTAKA

Mulyani, Mul: 2004: Analisis Tanah, Air dan Jaringan Tanaman:Rieneka Cipta: Jakarta.
Odum, Eugene P:1993: Dasar-dasar Ekologi III:UGM Press: Jogjakarta
Rukmana Rahmat, Uu Sugandi saputra: 1999:Gulma dan teknik Pengendalian:Kanisius: Jakarta.
Roesmarkam, Affandie. Nasih Widya Yuwono: 2002: Ilmu Kesuburan Tanah: Kanisius: Jakarta.
Rafi’I, suryatna: 1982: Ilmu Tanah: Angkasa:Bandung.
Soetjipta: 1982: Dasar-dasar Ekologi Hewan: UGM: Jogjakarta.
Nugroho, Ari Susatyo: 2005: Petunjuk Praktikum Ekologi I: IKIP PGRI Press: Semarang.




ekologi hutan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI I
FAKTOR PEMBATAS DALAM EKOSISTEM HUTAN
Laporan ini disusun guna memenuhi tugas Kelompok Mata Kuliah Praktikum Ekologi I

Dosen : Ary Susatyo Nugroho, M.Si.



Disusun Oleh Kelompok IV
Kelas V A
1. Dwi Putri Endriani ( 06320029 )
2. Eti Sukma Kristanti ( 06320039 )
3. Heri Priadi ( 06320045 )
4. Nur Wakidah ( 06320085 )
5. Puji Wahyurini ( 06320089 )
6. Puji Susilowati ( )
7. Ulfatul Khasanah ( 06320145 )



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2008
FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM DALAM HUTAN

Hari dan Tanggal Pelaksanaan Praktikum : Sabtu, 08 November 2008

A. Diskripsi Umum
Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan memiliki dimensi ruang dan waktu yang berarti kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini, sehungga hubungan yang nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu baik berdasarkan ruang maupun waktu.
Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan sebagai faktor pembatas bagi organisme, yaitu Hukum minimum Liebig dan Hukum toleransi Shelford. Hukum minimum liebig menyatakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman akan ditentukan oleh unsur hara esensial yang berada dalam jumlah minimum kritis. Jadi pertumbuhan tanaman tidak ditentukan oleh unsur hara yang melimpah tetapi ditentukan oleh unsur hara yang jumlahnya paling sedikit. Dengan demikian unsur hara ini dikatakan sebagai faktor pembatas karena dapat membatasi pertumbuhan tanaman.
Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan, suatu jenis organisme memiliki suatu kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya, diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya. Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat bertahan dan disebut dengan daerah yang tidak toleran.
Meskipun hukum minimum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford pada dasarnya benar namun humkum ini masih terlalu kaku, sehingga kedua hukum tersebut digabungkan menjadi konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada kondisi-kondisi yang tidak sederhana. Organisme dialam di kontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam pertumbuhan dan penyebaran jenis.
Semua faktor lingkungan dapat bertindak sebagai faktor pembatas bagi suatu organisme, baik secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Beberapa faktor lingkungan yang sering menjadi faktor pembatas bagi organisme adalah;
1. Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahari yang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun berlebihan dapat menjadi faktor pembatas bagi ekosistem.
2. Suhu Udara
Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisme, Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air.Kisaran suhu yang sangat kecil antara minus 200oC sampai 100oC dibandingkan kisaran suhu ribuan derajad C yang dikenal di alam semesta.
3. Air
Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air di bumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada suatu ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah dan keteragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut.
4. Ketinggian Tempat
Ketinggian suatu tempat diukur mulai dari permukaan air laut. Semakin tinggi suatu tempat, kerenggangan gas-gas udara semakin rendah sehingga suhu udara semakin rendah.
5. Kuat Arus
Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya.




B.Tujuan Praktikum;
1. Mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berperan sebagai faktor pembatas pada ekosistem hutan.
2. Mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berperan sebagai faktor pembatas pada ekosistem padang rumput.
C. Paparan Data
No Faktor Lingkungan Komponen Tempat terang Tempat teduh
1. Faktor Klimatik Intensitas cahaya
Temperatur Udara
Kelembapan Udara
Arah Angin
Awan
Debu
Asap 897
31oC
70 %
-
Berawan (+ + )
-
- 360
27oC
82 %
-
Berawan ( + + + )
-
-
2. Faktor Edafik Tekstur tanah
Warna tanah
Porositas
pH
Kadar air tanah
Keberadaan Batu Lempung berpasir
Kecoklatan

6,2
5,9 %
ada Lempung
Merah

5,9
6,2 %
ada
3. Faktor Topografi Ketinggian Tempat
Kemiringan Lahan
Arah kemiringan Lahan
Kondisi permukaan lahan
50o

datar
42o

bergelombang
4. Faktor Biotik Tumbuhan Hijau
 Sengon
 Nangka
 Branchiaria mutica
 Cynodon dactylon
 Panycum brevifolium
 Cyperus kyllinga
 Ageratum conyzoides
 Hyptis capitarta
 Hyptes capitata
 Phylantus amarus
 Lumut
Jamur
 Jamur kuping
 Jamur amanita
Konsumen I
 Semut hitam
 Belalang ranting
 Belalang hijau
Konsumen II
 Burung
 Katak
Konsumen III
 Ular
Dekomposer
 Jamur
 Cacing
2 pohon
3 pohon
banyak
banyak
sedikit
banyak
banyak
sedikit
sedikit
banyak
sedikit

tidak ada
ada

ada
tidak ada
ada

ada
tidak ada

tidak ada

ada
ada
1 pohon
4 pohon
banyak
sedikit
sedikit
banyak
sedikit
banyak
banyak
sedikit
banyak

ada
ada

ada
ada
tidak ada

ada
ada

ada

ada
ada

D. Pembahasan
Intesitas cahaya ekosistem hutan sangat ditentukan oleh radiasi matahari yang sampai pada ekosistem tersebut sehingga kualitas cahaya merupakan faktor yang vital tetapi juga membatasi keduanya pada tingkat maximum dan minimum. Seperti hal nya pada tanaman sengon yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi dari golongan lumut tidak memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. Temperatur udara dan kelembaban udara sangat berperan dalam proses-proses metabolisme tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya dalam suplai air seperti lumut dan jamur memerlukan daerah yang lembab untuk mempertahankan hidupnya. Beberapa mahluk terutama yang sedang berada didalam tingkat beristirahat dapat ada dalam suhu sangat rendah dalam waktu yang singkat, sedang beberapa mikroorganisme terutama bakteria dan algadapat hidup dan bereproduksi di suhu yang sangat tinggi.
Tekstur tanah, warna, serta pH juga dapat dijadikan sebagai faktor pembatas ekosistem hutan. Tekstur tanah menunjukkan sifat halus atau kasarnya butirann-butiran tanah didalamnya terkandung antara pasir ( sand ), debu ( silt ), liat ( clay ). Dalam ekosistem ini tekstur tanahnya lempung berpasir ( Sandy loam ). Secara alami tanah tidak memiliki struktur yang sempurna namun demikian orang menyederhanakannya dalam ide yang sempurna yang dinamakan dengan tanah Ideal. Tanah hutan yang berwarna coklat sampai hitam mudah didapati. Hal ini disebabkan oleh warna tanah yang dipengaruhi oleh kelembapan dan bahan organik yang ada didalamnya.
pH tanah di ekosistem ini berkisar antara 4,5 sampai 6,7. Jenis tanaman yang dapat bertahan hidup dan mengalami proses pertumbuhan berkisar pada pH tanah minimum 4,5 sampai 6,7, pH tanah yang netral adalah 7.sedang batas maximum tanaman dapat hidup pada pH 8,9 karena tingkat kebasaan tinggi dan tidak perlu penggampingan atau kebutuhan kapur.
Air , Hujan ditentukan sebagian besar ditentukan oleh pola geografi dan pola gerakan-gerakan udara yang besar atau sistem-sistem cuaca. Penyebaran hujan sepanjang tahun merupakan faktor pembatas yang sangat penting untuk organisme-organisme.Pada kasus ini tumbuhan dan hewan harus mampu hidup atau mengatasi periode kekeringan yang panjang yang pada umumnya curah hujan cenderung tersebar tidak merata dalam musim didaerah tropik dan subtropik sering kali dengan masa-masa kering dan basah yang jelas sehingga apabila tumbuhan atau hewan tidak mampu beradaptasi akan gugur atau mati.
Keadaan topografi sangat mempengaruhi profil tanah didalam daerah iklim tertentu. Lahan berbukit-bukit atau terutama disalahgunakan oleh manusia cenderung akan merusak lapisan tanah dan tanah cenderung memiliki lapisan A dan B yang tipis oleh erosi. Dilahan yang rata air dapat mencuci bahan-bahan dengan sangat cepat kedalam lapisan yang lebih dalam kadang-kadang membentuk endapan yang tidak dapat tembus oleh akar,binatang, air sehingga tanaman kerdil.
Faktor biotik disini terdapat populsai yang membentuk komunitas biotik dan membentuk ekosistem.



 Rantai makanan di tempat terang pada ekosistem hutan
Rumput → Belalang
↑ ↓
Pengurai ← Burung

 Rantai makanan di tempat teduh pada ekosistem hutan
Rumput → belalang
↑ ↓
Pengurai ← Ular ← katak


E. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pembatas ekosistem hutan adalah;
 Faktor klimatik meliputi intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara,.
 Faktor edafik meliputi tekstur tanah, warna tanah, porositas, pH, Kadar air tanah.
 Faktor topografi meliputi ketinggian tempat,kemiringan lahan, arah kemiringan lahan.
 Mahluk dapat memiliki suatu kisaran toleransi lebar untuk suatu fktor dan suatu kisaran sempit untuk faktor lainnya.
 Mahluk dengan kisaran toleransi lebar untuk semua faktor memiliki agihan paling luas.











DAFTAR PUSTAKA

Mulyani, Mul: 2004: Analisis Tanah, Air dan Jaringan Tanaman:Rieneka Cipta: Jakarta.
Odum, Eugene P:1993: Dasar-dasar Ekologi III:UGM Press: Jogjakarta
Rukmana Rahmat, Uu Sugandi saputra: 1999:Gulma dan teknik Pengendalian:Kanisius: Jakarta.
Roesmarkam, Affandie. Nasih Widya Yuwono: 2002: Ilmu Kesuburan Tanah: Kanisius: Jakarta.
Rafi’I, suryatna: 1982: Ilmu Tanah: Angkasa:Bandung.
Soetjipta: 1982: Dasar-dasar Ekologi Hewan: UGM: Jogjakarta.
Nugroho, Ari Susatyo: 2005: Petunjuk Praktikum Ekologi I: IKIP PGRI Press: Semarang.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

 
WELCOME TO BAMA ANDROID And SOFTWARE